← Back to Archive

PEMANFAATAN LAYANAN KESEHATAN GIGI PADA ORANG DEWASA MUDA DENGAN PENYAKIT TIDAK MENULAR: PERAN JKN DAN HAMBATAN AKSES DI INDONESIA

Dagun Raisah Laksmi Pratiwi — Center of Health Behavior and Promotion, Faculty of Medicine, Public Health, and Nursing, Universitas Gadjah Mada

pemanfaatan layanan kesehatan gigi penyakit tidak menular Jaminan Kesehatan Nasional perceived dental need dewasa muda

Abstract

Orang dewasa muda berada pada fase kritis di mana adopsi perilaku berisiko cenderung akan menetap hingga usia lanjut dan berkontribusi pada akumulasi beban penyakit tidak menular (PTM), termasuk masalah kesehatan gigi dalam jangka panjang. Mengingat PTM dan penyakit gigi dan mulut berbagi faktor risiko yang sama, penderita PTM pada kelompok usia ini berpotensi menghadapi kebutuhan perawatan gigi yang lebih tinggi sekaligus penurunan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan layanan kesehatan gigi pada orang dewasa muda dengan perceived dental need, dengan fokus pada peran status PTM dan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 digunakan dengan desain cross-sectional berbasis populasi, mencakup 100.742 orang dewasa berusia 25-39 tahun yang melaporkan adanya masalah gigi atau mulut dalam satu tahun terakhir. Survey-weighted multivariable logistic regression digunakan untuk mengestimasi odds ratio (OR) dengan 95% confidence interval (CI), disertai uji interaksi antara status PTM dan kepesertaan JKN. Proporsi yang memanfaatkan layanan gigi sebesar 15,1%, lebih tinggi pada penderita PTM (21,8%) dibandingkan non-PTM (14,9%), dan pada peserta JKN (16,5%) dibandingkan non-JKN (11,7%). Setelah penyesuaian terhadap kovariat, PTM berhubungan dengan peningkatan odds pemanfaatan layanan gigi (OR=1,45; 95% CI 1,25–1,69), demikian pula kepesertaan JKN (OR=1,27; 95% CI 1,17–1,38), namun tidak ditemukan interaksi yang signifikan antara keduanya. Meskipun PTM dan kepesertaan JKN berhubungan dengan pemanfaatan layanan gigi yang lebih tinggi, proporsi kunjungan secara keseluruhan masih sangat rendah, sehingga integrasi layanan kesehatan gigi dan program pengelolaan PTM, khususnya melalui penguatan Integrasi Layanan Primer (ILP) di fasilitas kesehatan perlu ditingkatkan.