BEBAN PELAYANAN SIROSIS HEPATIS DAN IMPLIKASI PEMBIAYAAN JAMINAN KESEHATAN NASIONAL UNTUK SKRINING KARSINOMA HEPATOSELULER DI RUMAH SAKIT RUJUKAN TERSIER
Gita Aprilicia — FK UPNVJ
Abstract
Latar Belakang: Sirosis hepatis merupakan penyakit hati kronik yang memerlukan monitoring jangka panjang untuk mendeteksi komplikasi, termasuk karsinoma hepatoseluler (KSH). Sebagai rumah sakit rujukan tersier nasional, RS Cipto Mangunkusumo memiliki beban pelayanan sirosis yang tinggi dengan kebutuhan pemeriksaan penunjang berulang yang berdampak pada pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tujuan: Penelitian ini bertujuan menggambarkan beban pelayanan pasien sirosis dan implikasi kebutuhan skrining KSH terhadap pembiayaan JKN. Metode: Penelitian deskriptif retrospektif dilakukan menggunakan data kunjungan rawat jalan pasien sirosis di Poliklinik Hepatobilier selama Januari–Desember 2024. Variabel yang dianalisis meliputi jumlah kunjungan, frekuensi kunjungan pasien, dan temuan KSH. Hasil: Terdapat 6.885 kunjungan rawat jalan dari 832 pasien sirosis dengan frekuensi kunjungan 1–14 kali dan rerata kunjungan pasien ialah 4 kali per tahun. Jumlah kunjungan tertinggi terjadi pada Oktober sebanyak 808 kunjungan dan terendah pada Juni sebanyak 403 kunjungan. KSH ditemukan pada 109 pasien (13,1%). Seluruh pasien menggunakan pembiayaan JKN. Tingginya kebutuhan pemeriksaan laboratorium darah, alfa-fetoprotein (AFP), ultrasonografi (USG) abdomen, dan esophagogastroduodenoscopy (EGD) untuk surveilans komplikasi sirosis dan skrining KSH menunjukkan tingginya utilisasi layanan diagnostik pada fasilitas rujukan tersier. Pemeriksaan berkala berkontribusi terhadap peningkatan beban pembiayaan JKN, namun tetap penting untuk deteksi dini kanker hati dan pencegahan komplikasi lanjut. Simpulan: Beban pelayanan pasien sirosis di rumah sakit rujukan tersier sangat tinggi dan memerlukan pemeriksaan surveilans berulang yang berdampak terhadap utilisasi layanan dan pembiayaan JKN. Optimalisasi strategi skrining KSH diperlukan untuk menjaga efektivitas deteksi dini serta keberlanjutan pembiayaan layanan hepatologi.