PENINGKATAN KEMANDIRIAN KEUANGAN RUMAH SAKIT DI WILAYAH 3T: PENGUATAN TATA KELOLA BLUD DAN DIGITALISASI DI RSUD X PERIODE 2026-2030
Fajrul Falah — Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan
Abstract
Rumah sakit di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) menghadapi tantangan besar dalam stabilitas keuangan akibat keterbatasan sumber pendapatan. RSUD X, sebagai rujukan regional di kepulauan Papua, mengalami tekanan finansial karena ketergantungan pada BPJS Kesehatan mencapai 96,5%, rencana pemotongan Dana Otonomi Khusus hingga 60%, serta tingginya biaya logistik kepulauan. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi peningkatan pendapatan dan efisiensi dalam Rencana Strategis (Renstra) 2026-2030. Studi kualitatif deskriptif ini melakukan telaah terhadap dokumen periode 2021-2025, meliputi Profil Kesehatan Kabupaten X, Kabupaten X dalam Angka, Renstra RSUD X 2021-2026, serta Laporan Kinerja dan Laporan Keuangan RSUD X. Analisis dilakukan untuk memetakan posisi tawar terhadap BPJS dan mengidentifikasi inefisiensi operasional guna menyusun langkah strategis. Temuan menunjukkan bahwa pengelolaan konvensional tidak lagi mencukupi. Masalah utama terletak pada hambatan aksesibilitas layanan, bukan sekadar segmentasi pasar. Mengingat potensi pasien non-BPJS dari sektor wisata masih kecil dan tidak menentu, strategi utama difokuskan pada peningkatan volume pelayanan dan diversifikasi sumber pembiayaan. Peningkatan jangkauan layanan dilakukan untuk memperluas akses masyarakat, sementara fleksibilitas Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) dioptimalkan untuk membuka sumber pendapatan lain seperti layanan pemeriksaan kesehatan (MCU) korporasi dan hiperbarik. Kesimpulannya, keberlanjutan RSUD X bergantung pada optimalisasi dana BLUD melalui perluasan volume layanan, diversifikasi pembiayaan, dan efisiensi operasional berbasis telemedisin.