← Back to Archive

Pemanfaatan Data Klaim JKN untuk Mengidentifikasi Ketimpangan Beban Penyakit Respirasi dan Neonatal pada Balita di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2024–2025

ANTOKALINA SARI VERDIANA — BPJS Kesehatan

balita penyakit respirasi neonatal JKN Nusa Tenggara Timur

Abstract

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menghadapi beban kesehatan balita yang cukup tinggi, terutama disebabkan oleh penyakit infeksi menular seperti Acute Upper Respiratory Infections (AURI), Influenza, Pneumonia, serta gangguan respirasi dan kardiovaskular pada neonatus. Faktor geografis yang kering, terbatasnya akses terhadap air bersih dan sanitasi, serta distribusi imunisasi yang belum merata diduga menjadi kontributor utama tingginya angka morbiditas balita di wilayah ini. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi ketimpangan beban penyakit respirasi dan gangguan neonatal pada balita peserta JKN di NTT selama tahun 2024–2025, dengan mempertimbangkan tren waktu, jenis kelamin, segmen peserta, dan distribusi kabupaten/kota. Penelitian dilakukan dengan desain observasional menggunakan data klaim JKN untuk balita usia 0–5 tahun di FKTP dan FKRTL. Analisis dilakukan secara deskriptif, uji chi-square, serta regresi Negative Binomial guna mengatasi masalah overdispersion pada data. Hasil penelitian mengidentifikasi adanya perbedaan signifikan jumlah kasus berdasarkan jenis kelamin pada seluruh kelompok diagnosis (p<0,001), di mana balita laki-laki memiliki beban lebih tinggi dibandingkan balita perempuan. Kasus AURI menunjukkan penurunan signifikan sekitar 2,9% per bulan (IRR=0,971; p=0,010), sedangkan gangguan neonatal serta Influenza-Pneumonia cenderung stabil tanpa penurunan bermakna setelah koreksi overdispersion. Beban kasus yang lebih tinggi ditemukan pada kelompok peserta PBI dan PBPU Pemda, dengan konsentrasi kasus di Kota Kupang, Manggarai, dan wilayah Sumba. Temuan ini menegaskan adanya ketimpangan sosial dan geografis dalam distribusi beban penyakit respirasi dan gangguan neonatal pada balita di NTT. Upaya penguatan layanan kesehatan primer, pemerataan akses perawatan neonatal dan anak, peningkatan cakupan imunisasi, perbaikan sanitasi dan air bersih, serta intervensi gizi berbasis wilayah menjadi langkah penting dalam menurunkan beban penyakit balita di kawasan Indonesia Timur.