← Back to Archive

Di Balik Pandangan yang Kabur: Bagaimana Faktor Sosioekonomi Memengaruhi Pemanfaatan Operasi Katarak di Era BPJS Kesehatan

Novat Pugo Sambodo — Department of Economics, Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Operasi Katarak Faktor Sosioekonomi Indonesia BPJS Kesehatan

Abstract

Katarak menjadi salah satu menjadi penyebab utama kebutaan yang dapat dicegah di Indonesia meskipun dapat diobati melalui prosedur bedah yang relatif sederhana dan hemat biaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana determinan sosioekonomi memengaruhi pemanfaatan operasi katarak guna mengidentifikasi hambatan akses dan mendukung penyempurnaan kebijakan bagi BPJS Kesehatan. Dengan menggunakan sampel data BPJS Kesehatan periode 2016 hingga 2023, studi ini menerapkan analisis regresi logistik untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang terkait dengan pengambilan keputusan operasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penerima Bantuan Iuran (PBI) memiliki probabilitas yang secara signifikan lebih tinggi untuk menjalani operasi katarak dibandingkan non-PBI, yang mengindikasikan bahwa skema pendanaan JKN telah berhasil mengurangi hambatan finansial bagi kelompok rentan atau masyarakat miskin. Secara kontraintuitif, penduduk di wilayah perkotaan serta wilayah Jawa dan Bali justru memiliki kemungkinan lebih rendah untuk menjalani operasi katarak dibandingkan penduduk di wilayah perdesaan dan luar Jawa-Bali. Hal ini menunjukkan bahwa akses fisik saja tidak cukup untuk menjamin tindakan medis. Selain itu, penggunaan fasilitas kesehatan swasta dan bertambahnya usia ditemukan sebagai determinan positif yang signifikan terhadap pemanfaatan operasi. Studi ini menyimpulkan bahwa kebijakan untuk mengatasi kebutaan akibat katarak harus bersifat multidimensi. Rekomendasi utama mencakup peningkatan literasi kesehatan mata, penguatan kemitraan antara sektor publik dan swasta, serta pelaksanaan intervensi berbasis wilayah yang ditargetkan untuk menjangkau populasi yang kurang terlayani, terutama di daerah dengan pola pemanfaatan yang tidak terduga. Temuan ini memberikan wawasan penting bagi strategi berbasis data untuk mengurangi kebutaan yang dapat dihindari di Indonesia.