Analisis Komparatif Nilai Klaim INA-CBG dan iDRG terhadap Tarif Rumah Sakit pada Layanan Rawat Inap
Eka Pujiyanti — IEKI
Abstract
Perubahan sistem pembayaran klaim dari INA-CBG ke iDRG menimbulkan implikasi finansial bagi rumah sakit, khususnya terhadap kesenjangan antara nilai klaim dan tarif pelayanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbandingan nilai klaim INA-CBG dan iDRG terhadap tarif rumah sakit (RS) pada layanan rawat inap serta mengidentifikasi diagnosis yang terdampak. Penelitian menggunakan desain komparatif dengan pendekatan kuantitatif terhadap data klaim rawat inap Januari–Maret 2026 (Januari 765 pasien; Februari 693 pasien; Maret 772 pasien) di RS UIN Syarif Hidayatullah. Analisis dilakukan dengan membandingkan total nilai klaim, rata-rata selisih terhadap tarif RS, serta proporsi kasus yang lebih menguntungkan pada masing-masing sistem pembayaran. Hasil menunjukkan bahwa secara agregat iDRG memberikan nilai klaim yang lebih tinggi dibanding INA-CBG pada Januari (6,37%) dan Februari (1,40%), serta relatif setara pada Maret (-0,12%). Meskipun demikian, kedua sistem masih menghasilkan klaim di bawah tarif RS. Rata-rata selisih klaim INA-CBG terhadap tarif RS berkisar -29% hingga -31%, sedangkan iDRG -15% hingga -17%, menunjukkan bahwa iDRG lebih mendekati tarif aktual dan berpotensi mengurangi gap pembiayaan hampir setengahnya. Namun, pada 155–180 kasus per bulan, INA-CBG tetap lebih menguntungkan dibanding iDRG, terutama pada diagnosis A90 (Dengue fever), A41.9 (Sepsis, unspecified), dan J18.0 (Bronchopneumonia). Temuan ini menunjukkan bahwa implementasi iDRG secara umum meningkatkan nilai klaim, tetapi memerlukan strategi costing dan pengendalian biaya yang lebih adaptif pada kelompok diagnosis tertentu guna meminimalkan potensi kerugian serta menjaga keberlanjutan finansial rumah sakit dalam masa transisi sistem pembayaran.