← Back to Archive

MODEL TANPA PLASTIK SEKUNDER DAN BERBASIS DIGITAL PADA FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA: STUDI KASUS DESKRIPTIF DENGAN ANALISIS KONTRAFAKTUAL DI KLINIK & APOTEK SION, BATAM

Andi Eka Putra — Klinik & Apotek SION

Keberlanjutan Layanan Kesehatan Reduksi Limbah Plastik Digitalisasi Apotek Hijau FKTP

Abstract

Latar Belakang: Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) berpotensi menghasilkan limbah plastik sekunder dalam jumlah signifikan melalui praktik pengemasan ulang obat. Namun dokumentasi sistematis mengenai upaya reduksinya di Indonesia masih sangat terbatas. Tujuan: Mengukur dampak lingkungan dan ekonomi dari kebijakan tanpa plastik sekunder serta operasional berbasis digital yang diterapkan sejak awal berdirinya Klinik & Apotek SION, Batam, periode Mei 2025 hingga April 2026. Metode: Studi kasus deskriptif kuantitatif dengan analisis kontrafaktual. Skenario kontrafaktual dibangun dengan asumsi satu kantong plastik HDPE (±5 gram) per transaksi sebagai representasi praktik apotek konvensional. Data pengeluaran aktual digunakan untuk menghitung penghematan biaya. Analisis sensitivitas dilakukan pada asumsi 3 gram dan 8 gram per kantong. Konflik kepentingan dinyatakan karena penulis merupakan pemilik fasilitas. Hasil: Tercatat 22.086 transaksi selama 12 bulan (20.945 transaksi apotek; 1.141 pasien klinik). Skenario kontrafaktual mengestimasi 110,4 kg limbah plastik sekunder per tahun dengan biaya Rp 4.417.200,-. Pengeluaran aktual kantong plastik HDPE hanya Rp. 11.000,- setara penggunaan sekitar 55 kantong – reduksi plastik sekunder lebih dari 99,7%. Sebanyak 71,1% transaksi diselesaikan tanpa kantong apapun, dengan obat diserahkan langsung dalam kemasan primer. Paper bag ramah lingkungan digunakan pada 28,9% transaksi berdasarkan kebutuhan pasien setelah diedukasi. Penggunaan kertas HVS dibatasi pada lima kategori keperluan klinis, dengan total pengeluaran Rp. 253.000,- per tahun untuk lebih dari 22.000 transaksi. Seluruh operasional menggunakan rekam medis elektronik, resep digital, dan antrian digital. Kesimpulan: Model tanpa plastik sekunder dan berbasis digital terbukti layak secara operasional di FKTP Indonesia. Proyeksi nasional menunjukkan potensi reduksi lebih dari 1.100 ton plastik per tahun apabila diadopsi oleh 10.000 FKTP sejenis. Temuan ini memberikan bukti konkret bagi pengambil kebijakan untuk mengintegrasikan standar keberlanjutan lingkungan dalam transformasi digital Kesehatan Indonesia.