ESTIMASI NILAI EKONOMI INVESTASI LAYANAN TELEMEDICINE DI PROVINSI MALUKU
Ulfathea Mulyadita — Health Systems Insight
Abstract
Provinsi Maluku sebagai wilayah kepulauan menghadapi tantangan akses pelayanan kesehatan akibat hambatan geografis, keterbatasan transportasi, distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata, serta tingginya biaya rujukan pasien. Digitalisasi layanan kesehatan melalui telemedicine berpotensi meningkatkan efisiensi sistem kesehatan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dan fasilitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan mengestimasi nilai ekonomi investasi telemedicine sebagai strategi peningkatan efisiensi dan akses pelayanan kesehatan di Provinsi Maluku. Penelitian menggunakan data sampel 1% BPJS Kesehatan tahun 2018–2023 dengan menghubungkan data layanan fasilitas kesehatan tingkat pertama dan rumah sakit menggunakan identitas unik pasien untuk menelusuri alur layanan antar tingkat fasilitas kesehatan. Pendekatan cascade of care digunakan untuk menganalisis pola pemanfaatan layanan, rujukan, dan penyelesaian layanan kesehatan. Selanjutnya, analisis Social Return on Investment (SROI) dilakukan untuk membandingkan kebutuhan investasi pengadaan infrastruktur telemedicine dengan manfaat yang diperoleh masyarakat dan sistem kesehatan melalui penurunan biaya transportasi, kehilangan produktivitas, peningkatan akses layanan, dan efisiensi pelayanan kesehatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada skenario implementasi optimal, kebutuhan investasi awal diperkirakan sebesar Rp28 juta per puskesmas dan Rp22 juta per rumah sakit rujukan, dengan biaya operasional tahunan masing-masing sebesar Rp36 juta dan Rp392,6 juta. Implementasi telemedicine mampu mengurangi kebutuhan rujukan lintas wilayah yang membebani masyarakat hingga sekitar Rp4,28 juta per kasus rujukan. Secara keseluruhan, investasi telemedicine sebesar Rp30,1 miliar per tahun diperkirakan menghasilkan manfaat sosial sekitar Rp61 miliar per tahun atau rasio manfaat terhadap biaya sebesar 2:1. Telemedicine juga meningkatkan kesinambungan layanan melalui konsultasi jarak jauh antara FKTP dan dokter spesialis. Implementasi telemedicine memberikan nilai ekonomi dan efisiensi sistem kesehatan yang signifikan, terutama pada wilayah kepulauan dan daerah dengan keterbatasan akses layanan kesehatan. Digitalisasi layanan kesehatan berpotensi mengurangi hambatan geografis dan finansial sekaligus meningkatkan akses dan efisiensi pelayanan kesehatan.