EVALUASI EKONOMI IXAZOMIB-LENALIDOMID-DEKSAMETASON UNTUK RELAPSED/REFRACTORY MULTIPLE MYELOMA DI INDONESIA
Alfarid Kurnialandi — Center for Health Economics Studies, Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Abstract
Relapsed/Refractory Multiple Myeloma (RRMM) menimbulkan beban epidemiologi serta ekonomi yang tinggi sebagai keganasan hematologi paling umum kedua yang tidak bisa disembuhkan, dengan kesenjangan kesintasan serta keterbatasan akses terhadap terapi inovatif di Indonesia. Ixazomib-Lenalidomid-Deksametason (IRd), sebagai terapi oral triplet, memiliki potensi memperpanjang kesintasan serta meningkatkan kualitas hidup pasien RRMM dibandingkan dengan Lenalidomid-Deksametason (Rd) seperti yang ditunjukkan dalam uji klinis TOURMALINE-MM1. Dengan keterbatasan bukti farmakoekonomi di Indonesia, dilakukan Cost-Utility Analysis (CUA) dan Budget Impact Analysis (BIA) untuk memberikan informasi kepada pengambil kebijakan mengenai value for money IRd untuk RRMM. Studi berbasis pemodelan Markov dilakukan yang terdiri dari status kesehatan meliputi bebas progresi, progresi, dan kematian dengan siklus mingguan, horizon seumur hidup, serta perspektif pembayar, membandingkan IRd dengan Rd, Bortezomib-Lenalidomid-Deksametason (VRd) dan Bortezomib-Deksametason (Vd). Efektivitas klinis diperoleh dari tinjauan literatur tersistematis. Parameter biaya diestimasi menggunakan tarif Indonesia Case Based Groups (INA-CBGs) dan nilai klaim harga obat kemoterapi Kementerian Kesehatan yang terdiri dari biaya obat, layanan kemoterapi, rawat jalan, uji rutin, dan rawat inap. IRd menunjukkan Progression Free Survival (PFS) dan Overall Survival (OS) yang lebih baik serta profil keamanan yang setara dibandingkan dengan Rd, VRd, dan Vd. CUA menunjukkan IRd memiliki efektivitas-biaya di bawah nilai ambang 1 kali Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita 2023 dengan probabilitas efektivitas biaya ~95%. BIA selama 5 tahun mengindikasikan penambahan anggaran sebesar Rp37,33-59,53 miliar untuk mengadopsi IRd ke dalam paket manfaat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Temuan ini mendukung IRd sebagai salah satu pilihan yang bernilai untuk terapi RRMM dengan turut mempertimbangkan keseimbangan dampak anggaran di Indonesia.