Beyond Physical Availability: How Endowment Failures and Exchange Shocks Drive Food Insecurity in Java Island, Indonesia
Naufal Mohamad Firdausyan — Universitas Gadjah Mada
Abstract
Kebijakan pangan Indonesia yang berfokus pada produksi agregat sering menutupi kerentanan akses di tingkat mikro pada level rumah tangga. Berlandaskan Teori Entitlement Amartya Sen, studi ini menginvestigasi determinan struktural kerawanan pangan rumah tangga di Pulau Jawa—lumbung nasional yang tengah mengalami transformasi agraria dan pergeseran demografi secara masif. Melalui analisis data panel tingkat kabupaten/kota (2017–2024) dengan pengukuran prevalensi kerawanan pangan (Food Insecurity Experience Scale), penelitian ini menangkap dimensi subjektif kerawanan pangan di tengah guncangan beruntun pandemi COVID-19 dan inflasi global. Estimasi Two-Way Fixed Effects (TWFE) diterapkan secara spesifik untuk mengurai dampak dari kapasitas endowment rumah tangga dibandingkan dengan guncangan exchange entitlement makroekonomi. Hasil empiris menunjukkan lonjakan dramatis pada daya penjelas model (Adjusted R-squared meningkat dari 0,268 menjadi 0,936) setelah memasukkan efek waktu tahunan. Hal ini mengonfirmasi bahwa guncangan sistemik mendikte mayoritas varians kerawanan pangan di wilayah Pulau Jawa. Terkait komponen endowment, daya beli ekonomi dan modal manusia (rata-rata lama sekolah) terbukti bertindak sebagai penyangga kritis. Sebaliknya, beban demografi—khususnya penuaan populasi (diproksikan oleh usia harapan hidup) dan tingginya rasio ketergantungan—memperparah kerentanan akses secara signifikan. Di sisi lain, indikator pasar tenaga kerja lokal menunjukkan signifikansi terbatas, menandakan bahwa degradasi exchange entitlement lebih dominan dipicu oleh volatilitas harga agregat dan biaya hidup struktural alih-alih fluktuasi lapangan kerja lokal. Kesimpulannya, studi ini mendemonstrasikan bahwa kerawanan pangan modern di Jawa adalah kegagalan entitlement kompleks yang menuntut pergeseran paradigma kebijakan menuju pemetaan kerentanan yang adaptif dan dinamis. Ini mendorong bagaimana proses responsif penanganan kerawanan pangan dilakukan untuk mengatasi efek malnutrisi jangka panjang.