← Back to Archive

PENGARUH KARAKTERISTIK FKTP TERHADAP PENGENDALIAN DIABETES DAN HIPERTENSI DALAM SKEMA KAPITASI BERBASIS KINERJA DI INDONESIA: ANALISIS DATA PANEL

Dedih Suandi — The George Institute for Global Health, UNSW Sydney

kapitasi-berbasis-kinerja pay-for-performance diabetes hipertensi prolanis.

Abstract

Indonesia menerapkan Kapitasi Berbasis Kinerja (KBK), skema pay-for-performance, untuk meningkatkan kualitas pelayanan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi performa fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dalam pengendalian diabetes dan hipertensi berdasarkan proporsi pasien terkontrol, serta hubungannya dengan karakteristik FKTP di bawah skema KBK. Penelitian ini menganalisis data panel BPJS Kesehatan mengenai proporsi pasien diabetes dan hipertensi terkontrol di FKTP dari 2019-2024. Regresi Zero-Inflated Negative Binomial (ZINB) digunakan untuk menilai perubahan performa FKTP dari waktu ke waktu dan hubungannya dengan karakteristik fasilitas. Sebanyak 12.358 FKTP dianalisis; 59% merupakan puskesmas, 80% terakreditasi, 51% berada di wilayah Jawa-Bali, 75% berada di wilayah kabupaten, dan 3% di wilayah terpencil. Rata-rata proporsi pasien terkontrol meningkat dari 0,7% menjadi 2,58% untuk diabetes dan dari 1,91% menjadi 6,71% untuk hipertensi selama 2019-2024. Analisis ZINB menunjukkan bahwa lokasi geografis dan status kepemilikan berhubungan dengan performa FKTP. Dalam pengendalian hipertensi, puskesmas memiliki performa lebih tinggi dibandingkan FKTP swasta (aOR 1,14; 95% CI 1,04-1,26). FKTP terakreditasi juga menunjukkan performa lebih tinggi dibandingkan yang tidak terakreditasi (aOR 1,42; 95% CI 1,27-1,60). Sebaliknya, FKTP di wilayah kabupaten dan wilayah terpencil menunjukkan performa lebih rendah (aOR 0,76; 95% CI 0,69-0,89; aOR 0,17; 95% CI 0,69-0,89). Dalam pengendalian diabetes, puskesmas memiliki performa lebih rendah dibandingkan FKTP swasta (aOR 0,55; 95% CI 0,52-0,59). FKTP di wilayah kabupaten dan wilayah terpencil juga menunjukkan performa lebih rendah (aOR 0,58; 95% CI 0,54-0,62; aOR 0,43; 95% CI 0,37-0,51). Status akreditasi tidak berhubungan signifikan dengan pengendalian diabetes. FKTP di wilayah Jawa-Bali menunjukkan performa tertinggi dalam pengendalian hipertensi maupun diabetes. Meskipun rata-rata proporsi pasien terkontrol meningkat, secara keseluruhan capaian pengendalian masih rendah. Temuan ini menekankan pentingnya mengatasi disparitas kapasitas antar-FKTP dan memahami faktor-faktor yang memengaruhi variasi performa guna mendukung pengembangan skema KBK yang lebih sesuai dengan konteks lokal.