← Back to Archive

ANALISIS SITUASI DAN DAMPAK ANGGARAN SKRINING RETINOPATI DIABETIK DI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA DI INDONESIA BERDASARKAN PERSPEKTIF PROVIDER

Nur Atika — Universitas Airlangga

Skrining Diabetik Retinopati Analisis Situasi Dampak Anggaran

Abstract

Evaluasi ekonomi skrining retinopati diabetik di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) telah ditetapkan sebagai topik prioritas HTA 2024 dan hasil aspek cost -effectivenessnya telah dinilai melalui proses appraisal HTA dan dipresentasikan di forum yang berbeda. Untuk itu, selanjutnya kajian ini berfokus pada analisis situasi skrining retinopati diabetik di lapangan berdasarkan perspektif penyedia layanan (Puskesmas). Analisis situasi digali melalui wawancara 4 puskesmas di Indonesia (dua puskesmas di Jakarta dan dua puskesmas di Bandung), didukung dengan expert opinion. Analisis dampak biaya dihitung berdasarkan perpektif provider. Pemeriksaan retinopati diabetik dilakukan pada pasien diabetes, sementara pemeriksaan pada masyarakat umum difokuskan pada gangguan penglihatan umum. Ketersediaan alat skrining yang ada di FKTP mengikuti pemenuhan standar ASPAK sebagai indikasi pengadaan, sehingga alat yang tersedia di FKTP saat ini adalah oftalmoskop langsung. Penggunaan oftalmoskop langsung untuk pemeriksaan mata dalam praktiknya masih jauh dari gold standard. Lama waktu pemeriksaan serta sarana ruangan yang diperlukan untuk melakukan pemeriksaan mata juga menjadi tantangan dalam pemeriksaan mata di Puskesmas. Pemeriksaan mata menggunakan oftalmoskop langsung dilakukan oleh dokter umum, namun pelaksanaannya terkendala oleh keterbatasan waktu akibat beban kerja yang tinggi di FKTP. Pengadaan kamera fundus portable dapat berpotensi meningkatkan akurasi penilaian dibandingkan dengan oftalmoskop langsung melalui kemampuannya menangkap citra, yang memungkinkan untuk di-deliver guna penilaian ulang oleh dokter spesialis mata. Perhitungan dampak biaya investasi alat kamera fundus portable dengan mencakup 4000 FKTP adalah sebesar Rp. 91.5 milyar. Skenario analisis menunjukkan agar tidak terjadi penambahan anggaran maka biaya skrining dengan menggunakan kamera fundus portable maksimal sebesar Rp. 18.591 per-skrining.