APAKAH PENSIUN MENINGKATKAN PERMINTAAN LAYANAN RAWAT JALAN? STUDI DI INDONESIA BERDASARKAN DATA SUSENAS
Pipit Pitriyan — CEDS Universitas Padjadjaran
Abstract
Latar Belakang: Meskipun masa pensiun secara drastis menurunkan biaya kesempatan (opportunity cost) dari waktu yang dibutuhkan untuk mengakses fasilitas medis (efek biaya waktu), transisi ini secara bersamaan memicu guncangan pendapatan negatif (efek pendapatan) yang dapat membatasi keterjangkauan biaya layanan kesehatan. Tujuan: Penelitian ini menyelidiki dampak kausal dari pensiun terhadap utilisasi layanan kesehatan di Indonesia, dengan fokus pada bagaimana transisi keluar dari pasar tenaga kerja mengubah perilaku pencarian pengobatan individu. Metodologi: Untuk mengisolasi kausalitas dari bias penurunan kesehatan alami akibat penuaan, kami menerapkan Sharp Regression Discontinuity Design (RDD) dengan memanfaatkan batas usia pensiun legal sebagai cutoff eksogen. Menggunakan sampel representatif nasional tingkat individu dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024, kami menganalisis utilisasi layanan rawat jalan di fasilitas publik dan swasta di sekitar ambang batas pensiun. Hasil sementara: Terdapat lompatan diskontinu yang signifikan pada probabilitas kunjungan rawat jalan, khususnya di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), segera setelah individu melewati usia pensiun formal. Lonjakan ini paling terlihat pada individu yang tercakup dalam skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), yang mengindikasikan bahwa pengurangan kendala waktu menjadi pendorong utama permintaan layanan kesehatan ketika hambatan finansial telah dimitigasi. Implikasi: Temuan ini memberikan wawasan kritis mengenai dinamika sisi permintaan dalam cakupan kesehatan semesta (Universal Health Coverage), serta menyarankan bahwa kebijakan kesehatan harus mengantisipasi peningkatan tekanan struktural pada jaringan perawatan primer seiring dengan transisi populasi Indonesia menuju usia pensiun.