← Back to Archive

PENGARUH PENERAPAN ILP DAN KELENGKAPAN SISTEM KESEHATAN TERHADAP CAPAIAN SKRINING HIPERTENSI DAN DM PADA DEWASA DAN LANSIA DI ERA TRANSFORMASI LAYANAN PRIMER

Retno Pujisubekti — Health Systems Insight

Integrasi layanan primer skrining hipertensi diabetes melitus dewasa lansia

Abstract

Integrasi Layanan Primer (ILP) merupakan sebuah transformasi sistem layanan kesehatan berfokus dalam deteksi dini penyakit menurut siklus hidup. Transformasi ini dinilai cukup penting mengingat semakin besarnya beban biaya kesehatan akibat penyakit katastropik. Studi ini bertujuan untuk melihat bagaimana penerapan ILP dan kelengkapan sistem kesehatan di puskesmas mempengaruhi capaian skrining hipertensi dan diabetes melitus (DM) di kelompok dewasa dan lansia. Data capaian skrining didapatkan dari sistem informasi Cek Keseshatan Gratis (CKG) di Kementerian Kesehatan tahun 2025. Variabel independen yaitu kelengkapan administrasi ILP (SK, SOP, ruangan klaster), kelengkapan tenaga kesehatan, alat kesehatan, dan obat-obatan dasar, serta tipe daerah. Unit analisis adalah kabupaten/kota dengan agregasi data dari tingkat Puskesmas. Analsis data dilakukan secara deskriptif dan mulivariat dengan regresi linier. Hasil skrining hipertensi dan DM pada dewasa diketahui sebesar 15.4% dan 12.4%, sedangkan pada lansia tercatat sebesar 12.6% dan 9.9%. Untuk penerapan ILP, lebih dari 70% kabupaten/kota semua puskesmasnya telah memiliki SK dan ruangan kluster, serta 62% untuk SOP. Hasil analisis multivariat menunjukan kelengkapan jenis tenaga kesehatan signifikan baik untuk capaian skrining hipertensi (β=0,08; 95%CI: 0,03–0,14) dan DM (β=0,06; 95%CI: 0,02–0,1) pada kelompok dewasa, dan pada kelompok lansia (β=0,08; 95%CI: 0,04–0,13; β=0,06; 95%CI: 0,02–0,9). Selain itu, ketersedian obat esensial juga signifikan mempengaruhi capaian skrining lansia. Meskipun dari sisi komitmen sudah banyak kabupaten/kota yang menerapkan ILP namun hal tersebut tidak secara langsung meningkatkan capaian skrining jika tidak didukung dengan kelengkapan tenaga kesehatan. Mengingat masih rendahnya capaian, dibutuhkan strategi khusus pemenuhan serta pemerataan tenaga kesahatan baik di perkotaan hingga daerah tertinggal.