← Back to Archive

BEBAN KASUS DAN KLAIM PENYAKIT YANG DAPAT DICEGAH DENGAN IMUNISASI PADA KELOMPOK DEWASA DI INDONESIA: ANALISIS DATA SAMPEL BPJS KESEHATAN 2015–2024 UNTUK PRIORITISASI PROGRAM VAKSINASI DEWASA

Rifqi Abdul Fattah — PT Kalta Bina Insani

vaksinasi dewasa data sampel BPJS Kesehatan vaccine-preventable diseases beban klaim prioritisasi

Abstract

Program imunisasi nasional Indonesia masih berfokus pada anak-anak, sementara penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (vaccine preventable diseases/VPD) pada orang dewasa belum menjadi prioritas, meskipun bebannya pada kelompok usia produktif dan lanjut usia berdampak signifikan terhadap kesehatan dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan mengukur besaran kasus dan klaim VPD terpilih pada kelompok dewasa serta menyusun rekomendasi prioritisasi vaksin. Studi deskriptif ini menggunakan data sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 dengan kasus mencakup FKTP dan FKRTL, sementara klaim mencakup FKRTL rawat jalan dan rawat inap, diidentifikasi via ICD-10 dan didisagregasi menurut jenis kelamin, usia (19-60 dan >60 tahun), dan provinsi. Prioritisasi disusun melalui empat lensa, yaitu magnitudo kasus, total klaim, tren, dan proporsi rawat inap. Sepanjang 2015-2024 tercatat sekitar 21,9 juta kasus dengan total klaim sekitar Rp11,7 triliun, tertinggi pada tifoid (Rp5,7 triliun), dengue (Rp4,3 triliun), dan HPV (Rp0,9 triliun). Kasus umumnya sedikit lebih banyak ditemukan pada perempuan dan terkonsentrasi di Pulau Jawa. Dengue, herpes zoster, dan hepatitis B menunjukkan tren meningkat, sedangkan proporsi rawat inap tertinggi pada dengue (91%), tetanus (89%), tifoid (87%), dan pneumokokus (82%). Biaya satu episode rawat inap umumnya melebihi biaya satu paket vaksin dewasa (tifoid 5,2x; pneumokokus 5,9x). Tifoid dan dengue menjadi prioritas utama, diikuti hepatitis B, herpes zoster, HPV, influenza, serta tetanus dan pneumokokus atas dasar tingginya proporsi rawat inap dan beban pada lansia. Temuan ini merekomendasikan agar Pemerintah memulai prioritisasi program imunisasi dewasa secara bertahap berbasis beban, dengan mempertimbangkan ketersediaan vaksin yang terjangkau.